
Febrie Adriansyah
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) 2022–2026 (diberhentikan sementara 4 Agustus 2026)
Kejaksaan Agung RI
Pidana
Belum ada putusan. Terdakwa dalam persidangan (tahap pembuktian sejak 26 Oktober 2026); ditahan di Rutan KPK. Dituntut pidana penjara oleh JPU belum dibacakan per 29 Oktober 2026.
Status
Dalam proses persida
Nomor Putusan
Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.
SUMBER & PEMBARUAN
Catatan koreksi editorial
Belum ada koreksi yang diterapkan melalui catatan editorial untuk profil ini. Informasi dalam dataset tetap perlu dicocokkan dengan sumber dan tanggalnya.
Foto Febrie Adriansyah(6 foto)

Dalam Proses Hukum — Belum Terbukti Bersalah
Yang bersangkutan berstatus dalam proses hukum dan proses hukumnya masih berjalan. Berdasarkan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence), ia dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht).
Data Pribadi
Nama Lengkap
Febrie Adriansyah
Tempat Lahir
Jakarta
Tanggal Lahir
19 Februari 1968
Agama
-
🎓 Pendidikan
- SD–SMA di Jambi (seluruh pendidikan dasar–menengah ditempuh di Jambi)
- S1 Fakultas Hukum Universitas Jambi
- Magister Hukum Universitas Airlangga, Surabaya
- Doktor Ilmu Hukum Universitas Airlangga (disertasi: "Reformulasi Bukti Permulaan yang Cukup dalam Penyitaan Aset Tindak Pidana Pencucian Uang")
💼 Riwayat Karir
1996 (awal karier)
Jaksa (jabatan terakhir: Kasi Intelijen)
Kejaksaan Negeri Sungai Penuh
Sebelum Juli 2021
Kepala Kejaksaan Negeri Bandung
Kejaksaan Negeri Bandung
Sebelum Juli 2021
Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus)
Kejaksaan Tinggi Jawa Timur
Sebelum Juli 2021
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (DIY)
Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta
Sebelum Juli 2021
Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (DKI Jakarta)
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
Sebelum Juli 2021
Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur
Kejaksaan Tinggi NTT
Sebelum Juli 2021
Direktur Penyidikan
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung
29 Juli 2021
Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
10 Januari 2022
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)
Kejaksaan Agung RI
11 Juli 2026
Mengundurkan diri dari Jampidsus
Kejaksaan Agung RI
4 Agustus 2026
Diberhentikan sementara sebagai jaksa
Kejaksaan Agung RI
Posisi Jabatan Terakhir
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI — jabatan yang dilepas 11 Juli 2026 Diberhentikan sementara sebagai jaksa pada 4 Agustus 2026.
Febrie Adriansyah lahir di Jakarta, 19 Februari 1968, dan besar di Jambi. Ia menempuh pendidikan dasar hingga kuliah di Jambi (Sarjana Hukum Universitas Jambi), lalu meraih Magister dan Doktor Ilmu Hukum di Universitas Airlangga dengan disertasi "Reformulasi Bukti Permulaan yang Cukup dalam Penyitaan Aset Tindak Pidana Pencucian Uang". Kariernya sebagai jaksa dimulai 1996 di Kejaksaan Negeri Sungai Penuh (jabatan terakhir di sana: Kasi Intelijen), lalu berpindah tugas sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Bandung, Aspidsus Kejati Jawa Timur, Wakajati DIY, Wakajati DKI Jakarta, Kajati Nusa Tenggara Timur, dan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung. Pada 29 Juli 2021 ia dilantik sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, hanya sekitar lima bulan sebelum diangkat menjadi Jampidsus (10 Januari 2022; sebagian pemberitaan menyebut 22 Januari 2022). Sebagai Jampidsus, ia memimpin penanganan sejumlah perkara besar: Jiwasraya, Asabri, Garuda Indonesia, BTS Kominfo, tata niaga timah (yang diungkap mencapai Rp300 triliun), hingga kredit macet Bank BTN. LHKPN per 31 Desember 2024 mencatat hartanya Rp18.261.445.180. Karier 33 tahun itu berakhir dramatis: pada 11 Juli 2026 ia mengundurkan diri sebagai Jampidsus beberapa jam setelah Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri menetapkannya sebagai tersangka dugaan korupsi dan TPPU; pada 4 Agustus 2026 Jaksa Agung ST Burhanuddin memberhentikannya sementara sebagai jaksa. Ia membantah semua tuduhan dan menyebut kasusnya sebagai kriminalisasi.
Nomor Putusan
Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.
Pidana Penjara
Belum ada putusan. Terdakwa dalam persidangan (tahap pembuktian sejak 26 Oktober 2026); ditahan di Rutan KPK. Dituntut pidana penjara oleh JPU belum dibacakan per 29 Oktober 2026.
Status
Dalam proses persidangan
Pasal yang Dilanggar:
Keterangan:
Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) yang menangani perkara besar seperti Jiwasraya, Asabri, korupsi timah, dan BTS Kominfo. Perkaranya bermula dari penanganan perkara yang ia tangani: Kortastipidkor Polri menetapkannya tersangka pada 11 Juli 2026 atas dugaan korupsi dan/atau tindak pidana pencucian uang (TPPU), hari yang sama ia mundur dari jabatan Jampidsus. Perkara kemudian dilanjutkan Kejaksaan Agung melalui Tim 9; berkas dinyatakan lengkap (P-21) dan dilimpahkan ke Kejari Jakarta Selatan 18 September 2026. Sidang perdana digelar 7 Oktober 2026 di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan 34 jaksa gabungan. JPU mendakwanya melakukan pemerasan terhadap pengusaha Tan Kian senilai Rp55 miliar dan TPPU senilai ratusan miliar rupiah (angka yang dikutip media berkisar Rp346,7 miliar hingga Rp353,9 miliar), dengan barang bukti antara lain emas 74 kilogram. Dakwaan juga memuat sejumlah aliran dana dari perusahaan-perusahaan yang terkait perkara yang pernah ia tangani. Ia membacakan eksepsi pada 14–15 Oktober 2026 dan meminta dakwaan dibatalkan, namun pada 26 Oktober 2026 majelis hakim menolak keberatan tersebut (putusan sela) dan memerintahkan sidang berlanjut ke tahap pembuktian; sidang pembuktian berjalan sejak 27 Oktober 2026. Komisi Yudisial menyatakan ikut memantau persidangan, sementara kubu Febrie mempersoalkan perlindungan LPSK terhadap Ferry Yanto Hongkiriwang. Ia membantah semua dakwaan, menuduh Ferry Hongkiriwang mencatut namanya, dan menyebut perkaranya sebagai serangan balik atas penanganan korupsi besar. Seluruh keterangan masih berjalan di persidangan dan belum ada putusan; status hukumnya belum final.
Negara Republik Indonesia
Rp346,7–353,9 miliar (menurut dakwaan)Nilai TPPU yang didakwakan; angka berbeda antar pemberitaan mengikuti versi dakwaan yang dikutip.
Tan Kian (pengusaha)
Rp55.000.000.000Didakwa diperas melalui perantara Ferry Yanto Hongkiriwang.
Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya menggeledah sejumlah lokasi di Jakarta dan sekitarnya terkait dugaan korupsi di tiga BUMN/perkara besar; kafe de'Clan Signature di Cipete digeledah dan disita Rp67,2 miliar dari dua lokasi; rumah Febrie di Sentul, Bogor, digeledah dan ditemukan emas 74 kg serta uang tunai ratusan miliar. Rumah Febrie di Kebayoran Baru dan Sentul dijaga personel TNI — YLBHI mengecam pengerahan kekuatan militer dan mendesak penjelasan.
Isu keterkaitan Febrie dengan penggeledahan memuncak; Kejagung menyatakan menghormati proses hukum Polri; KPK (Deputi Pencegahan Aminuddin, 10 Juli) menduga Febrie memakai nominee untuk menyamarkan kepemilikan rumah mewah di Sentul yang tidak masuk LHKPN.
Febrie menggelar konferensi pers di Gedung Bundar Kejagung: membantah keterkaitan dengan kafe de'Clan, menegaskan penanganan perkara Pidsus tetap berjalan sesuai SOP, dll. Pada hari yang sama Polda Metro Jaya menerbitkan Surat Penetapan Tersangka No. S.Tap/02/VII/RES.3.3/2026 tertanggal 10 Juli 2026 atas namanya.
Kortastipidkor Polri (Kakortastipidkor Irjen Pol Totok Suharyanto) menetapkan Febrie sebagai tersangka dugaan korupsi dan/atau TPPU pada perkara PT Asabri, Krakatau Steel, dan pasokan batu bara PLTU PLN, bersama advokat Don Ritto (tersangka TPPU/Asabri). Pada hari yang sama Febrie mengundurkan diri sebagai Jampidsus dan pengunduran diri itu diterima Jaksa Agung ST Burhanuddin; Polri secara resmi menyerahkan tiga perkara beserta tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Agung; Komisi III DPR membentuk panja pengawasan.
Polemik 'tak sesuai KUHAP': Mahfud MD menilai yang terjadi bukan pelimpahan perkara melainkan 'penyerahan/pengalihan kelanjutan penyidikan' yang tidak dikenal dan tidak dibenarkan KUHAP — sebab Febrie belum pernah diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Polri; ia mencurigai tiga skenario (perkara dilokalisir, diperlambat, hingga di-deponering) dan mendesak KPK mengambil alih. Kejagung menyebut langkah itu 'pengalihan penanganan', bukan pelimpahan berkas. YLBHI menilai pelimpahan tak berdasar hukum dan mendesak KPK mengambil alih; KPK menyatakan masih memantau (syarat Pasal 10A UU KPK belum terpenuhi). Pada hari yang sama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan sowan/silaturahmi ke Mabes TNI (Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto) lalu ke Kejaksaan Agung (Jaksa Agung ST Burhanuddin) — keduanya berjabat tangan 'salam komando'; Kapolri menegaskan 'tidak ada masalah' antara Polri dan Kejagung serta membantah isu keretakan/rivalitas.
Penyidik Polri mendatangi Gedung Pidsus Kejagung membawa koper bertuliskan 'BAP' untuk penyerahan dokumen tahap lanjutan; publik dan pegiat antikorupsi menyoroti sowan Kapolri sebagai upaya 'mendinginkan' isu ketegangan; Komisi Kejaksaan menyebut Febrie terancam dipecat tidak hormat.
Kejagung menerbitkan tiga surat perintah penyidikan (sprindik) baru untuk perkara Krakatau Steel, batu bara PLTU PLN, dan PT Asabri; Kapuspenkum Anang Supriatna sempat menyebut Febrie 'saksi' (status hukum berubah tersangka→saksi) lalu malam harinya meralat: berdasarkan penetapan tersangka Polri, Febrie tetap tersangka. KPK menyatakan belum mengambil alih dan masih memantau progres.
Kejagung memeriksa Febrie ±11 jam sebagai tersangka kasus ASABRI (18 pertanyaan, didampingi Hotman Paris) dan TIDAK menahannya; pada hari yang sama Polri menyerahkan tersangka Don Ritto beserta barang bukti (74 kg emas dan uang ratusan miliar) ke Kejagung — Don Ritto tetap ditahan (kuasa hukumnya menyebut kliennya 'tumbal karena dianggap orang dekat Jampidsus'). LP3HI/lembaga lain menggugat praperadilan atas pengalihan perkara ke Kejagung.
Hotman Paris Hutapea mundur sebagai kuasa hukum Febrie di tengah sorotan (alasan kondisi kesehatan); posisinya digantikan tim advokat yang diketuai Febri Diansyah (eks juru bicara KPK).
Febrie diperiksa ±10 jam di Kejagung sebagai saksi untuk TPPU, lalu statusnya dinaikkan menjadi tersangka TPPU dan ia ditahan 20 hari; penahanan dititipkan di Rutan Cabang KPK sebagai 'perlindungan' (Plt Jampidsus Rudi Margono, koordinator Tim 9). Usai pemeriksaan Febrie menyebut 'saya merasa memang ini kriminalisasi', meragukan kecukupan alat bukti, dan meminta maaf kepada Presiden Prabowo serta Jaksa Agung; ia menyerahkan soal kepemilikan 74 kg emas kepada penyidik.
KPK (Deputi Koordinasi dan Supervisi Ely Kusumastuti) menyatakan penitipan tahanan Febrie di Rutan KPK sudah sesuai prosedur dan menegaskan perannya terbatas pada fasilitas penahanan; Kejagung beralasan faktor keamanan dan kenyamanan.
Jaksa Agung ST Burhanuddin memberhentikan sementara Febrie Adriansyah sebagai jaksa aktif atas usulan Tim 9/Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Rudi Margono, menyusul status tersangka TPPU; Jamwas menyebut Febrie masih menerima gaji meski mundur, memicu polemik publik (termasuk sorotan Komisi Kejaksaan soal potensi PTDH).
Febrie resmi mengajukan dua gugatan praperadilan ke PN Jakarta Selatan untuk menguji sah tidaknya penetapan tersangka, penahanan, dan upaya paksa (penggeledahan/penyitaan); tim kuasa hukum mengklaim menemukan pelanggaran hukum acara dan menilai Kejagung keliru menerapkan pasal TPPU hingga KUHP.
Sidang perdana praperadilan digelar di PN Jaksel; Febrie meminta agar emas 74 kg dan uang ratusan miliar segera dikembalikan; Kortastipidkor Polri meminta hakim menolak permohonan. Di luar gedung, massa berdemonstrasi menuntut praperadilan ditolak.
Hakim tunggal Richard Edwin Basoeki menolak praperadilan perkara No. 134/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (pemohon: Febrie; termohon: Polda Metro Jaya dan Kortastipikor Polri; turut termohon: Kejagung). Dalam pertimbangan putusan terungkap keterangan pengusaha Tan Kian soal penyerahan uang dolar Singapura ekuivalen ±Rp40 miliar kepada seseorang bernama 'Feri' terkait perkara Jiwasraya/Asabri; hakim menegaskan praperadilan tidak menilai kebenaran pokok perkara.
Praperadilan kedua (No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL) soal sahnya penetapan tersangka juga ditolak — status tersangka dan penyitaan dinyatakan sah; kuasa hukum menyatakan Febrie ikhlas dan membantah tafsir bahwa hakim menyimpulkan kliennya menerima Rp40 miliar dari Tan Kian (BAP Tan Kian disebut menyebut 'bisa saja' empat nama di Kejagung, tanpa menyebut Febrie).
Febrie diperiksa Tim 9 Kejagung sebagai tersangka; kuasa hukum (Febri Diansyah) menyoroti dasar pemanggilan yang merujuk pada penetapan tersangka Polda Metro Jaya dan dua putusan praperadilan — praktik surat yang disebut belum pernah ada sebelumnya.
Pengusaha Ferry Hongkiriwang (dikenal sebagai Ferry Boboho) mengembalikan Rp5 miliar ke Kejagung, diduga terkait dugaan pemerasan Febrie dan bagian dari aliran Rp40 miliar Tan Kian (Jiwasraya); pengamat menilai ia seharusnya juga dijadikan tersangka.
Rapat koordinasi Tim 9 Kejagung dengan Kortas Tipikor Polri, KPK, Polda Metro Jaya, dan Komisi Kejaksaan; Kejagung mengumumkan tindak pidana asal TPPU Febrie adalah dugaan pemerasan Pasal 12 huruf e UU Tipikor dalam penanganan perkara PT Asuransi Jiwasraya dan/atau PT ASABRI, sedangkan Don Ritto dan Nurman Herin hanya dijerat TPPU. Jaksa menyita 38 objek aset tanah dan/atau bangunan senilai taksiran Rp846 miliar, 27 lembar saham perusahaan, barang bukti valas dan emas, serta 1.150 lembar dokumen; penyidikan dinyatakan rampung.
Penuntut Umum Kejari Jakarta Selatan menyatakan berkas perkara lengkap (P-21) atas nama tersangka FA (Febrie Adriansyah) dan kawan-kawan.
Pelimpahan tahap II: Tim 9 Kejagung menyerahkan tersangka Febrie Adriansyah beserta Don Ritto dan Nurman Herin serta barang bukti dan berkas ke JPU Kejari Jakarta Selatan; JPU diberi 20 hari menyusun surat dakwaan sebelum perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor. Febrie kepada wartawan membantah dugaan pemerasan ('selama 33 tahun jadi jaksa saya tidak pernah dijatuhi hukuman di pengawasan'), mempertanyakan kepemilikan emas 74 kg ('tanya penyidik', ia mengaku tak punya IUP tambang/konsesi sawit), dan kuasa hukumnya menegaskan 38 aset Rp846 miliar bukan milik Febrie; kuasa hukum juga menyoroti tempus TPPU dan pemerasan yang dinilai tidak sinkron.
Aktivis 98 (JARI 98) dan sejumlah pegiat mendesak pengusutan kasus Febrie Adriansyah hingga tuntas dan publik mengawal perkaranya; pakar menilai 'data abadi' Gedung Bundar yang disinggung Febrie bisa membuka kembali kasus lama.
Kejagung menyita 38 bidang tanah senilai Rp846 miliar terkait dugaan TPPU Febrie Adriansyah.
Sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan 34 jaksa gabungan; JPU membacakan dakwaan: pemerasan Rp55 miliar terhadap pengusaha Tan Kian dan TPPU ratusan miliar rupiah.
Dakwaan mengungkap sejumlah aliran dana dari perusahaan yang terkait perkara yang pernah ditangani, antara lain PT Waskita Beton Precast, PT Jasa Marga, BFC Krakatau Steel, Sinarmas, dan Indonesia Exim. Kubu Febrie mempersoalkan asal-usul emas 74 kilogram.
Febrie Adriansyah membacakan eksepsi/nota keberatan dan meminta dakwaan dibatalkan; ia menyebut perkaranya sebagai serangan balik atas penanganan korupsi besar dan menuduh Ferry Hongkiriwang mencatut namanya.
Beredar kabar hoaks yang menyatakan Febrie Adriansyah telah dibebaskan; sejumlah media memverifikasi bahwa ia masih terdakwa.
JPU meminta majelis hakim menolak eksepsi Febrie dan menegaskan dakwaan sudah menjelaskan perannya.
Majelis hakim membacakan putusan sela: keberatan/eksepsi terdakwa DITOLAK dan sidang diperintahkan lanjut ke tahap pembuktian.
Sidang masuk tahap pembuktian; pakar hukum menekankan beban pembuktian ada pada jaksa. Perkara turut menjadi sorotan Komisi Yudisial.
Sidang pembuktian berlanjut; kubu Febrie mengajukan keberatan atas perlindungan LPSK terhadap Ferry Yanto Hongkiriwang.
👨👩👧 Keluarga Terlibat
Rugun Saragih
Istri
Jaksa fungsional di Kejaksaan Agung RI, menjabat Kepala Bidang Penerangan dan Penyuluhan Hukum (Penkum/Luhkum). Laporan LHKPN-nya Rp18.223.945.180 (mayoritas tanah dan bangunan Rp14,85 miliar) hampir identik dengan laporan Febrie Rp18.261.445.180. Namanya ikut tersorot setelah penggeledahan rumah keluarga di Sentul, Bogor (emas 74 kg dan uang ratusan miliar) dan sempat menjadi perbincangan publik.
🤝 Kroni & Rekan
Don Ritto
Terdakwa bersama dalam perkara yang sama
Kasus: Didakwa bersama Febrie Adriansyah dalam perkara pemerasan dan TPPU; menjalani persidangan yang sama.
Ferry Yanto Hongkiriwang (Ferry Boboho)
Disebut sebagai perantara/kurir uang Rp55 miliar
Kasus: Disebut dalam dakwaan sebagai pihak yang meminta Rp55 miliar kepada Tan Kian. Belum berstatus tersangka; kubu Febrie mempersoalkan perlindungan LPSK terhadapnya. Catatan: bukan tersangka dalam perkara ini.
Nurman Herin
Pihak yang mengaku dibohongi dan mengajukan nota perlawanan
Kasus: Muncul dalam persidangan; kuasa hukumnya meminta majelis memutus adil. Bukan terdakwa dalam perkara ini.
38 bidang tanah senilai Rp846 miliar — disita Kejagung terkait TPPU (Oktober 2026)
Emas 74 kilogram — disebut dalam dakwaan sebagai barang yang diperoleh dari perbuatan pidana; asal-usulnya dipersoalkan kubu terdakwa
Uang tunai dan rekening terkait aliran dana yang didakwakan (nilai rinci belum dipublikasikan)
Putusan Pengadilan
Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.
Sumber rujukan profil
⚠️ Data dihimpun dari pemberitaan kredibel, dokumen resmi, dan putusan pengadilan. Status hukum setiap orang berbeda dan belum tentu berkekuatan hukum tetap (inkracht). Berlaku asas praduga tak bersalah.