Febrie Adriansyah
PrabowoDalam Proses Hukum⚖️ Belum Terbukti Bersalah

Febrie Adriansyah

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) 2022–2026 (diberhentikan sementara 4 Agustus 2026)

Kejaksaan Agung RI

⚖️

Pidana

Belum ada putusan. Terdakwa dalam persidangan (tahap pembuktian sejak 26 Oktober 2026); ditahan di Rutan KPK. Dituntut pidana penjara oleh JPU belum dibacakan per 29 Oktober 2026.

⚖️

Status

Dalam proses persida

📄

Nomor Putusan

Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.

SUMBER & PEMBARUAN

Catatan koreksi editorial

Belum ada koreksi yang diterapkan melalui catatan editorial untuk profil ini. Informasi dalam dataset tetap perlu dicocokkan dengan sumber dan tanggalnya.

Foto Febrie Adriansyah(6 foto)

1/6
Terdakwa yang merupakan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah
Viva · 21 Okt 2026Terdakwa yang merupakan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah Sumber artikel

Dalam Proses Hukum — Belum Terbukti Bersalah

Yang bersangkutan berstatus dalam proses hukum dan proses hukumnya masih berjalan. Berdasarkan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence), ia dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Data Pribadi

Nama Lengkap

Febrie Adriansyah

Tempat Lahir

Jakarta

Tanggal Lahir

19 Februari 1968

Agama

-

🎓 Pendidikan

  • SD–SMA di Jambi (seluruh pendidikan dasar–menengah ditempuh di Jambi)
  • S1 Fakultas Hukum Universitas Jambi
  • Magister Hukum Universitas Airlangga, Surabaya
  • Doktor Ilmu Hukum Universitas Airlangga (disertasi: "Reformulasi Bukti Permulaan yang Cukup dalam Penyitaan Aset Tindak Pidana Pencucian Uang")

💼 Riwayat Karir

1996 (awal karier)

Jaksa (jabatan terakhir: Kasi Intelijen)

Kejaksaan Negeri Sungai Penuh

Sebelum Juli 2021

Kepala Kejaksaan Negeri Bandung

Kejaksaan Negeri Bandung

Sebelum Juli 2021

Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus)

Kejaksaan Tinggi Jawa Timur

Sebelum Juli 2021

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (DIY)

Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebelum Juli 2021

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (DKI Jakarta)

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta

Sebelum Juli 2021

Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur

Kejaksaan Tinggi NTT

Sebelum Juli 2021

Direktur Penyidikan

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung

29 Juli 2021

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta

Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta

10 Januari 2022

Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus)

Kejaksaan Agung RI

11 Juli 2026

Mengundurkan diri dari Jampidsus

Kejaksaan Agung RI

4 Agustus 2026

Diberhentikan sementara sebagai jaksa

Kejaksaan Agung RI

Posisi Jabatan Terakhir

Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI — jabatan yang dilepas 11 Juli 2026 Diberhentikan sementara sebagai jaksa pada 4 Agustus 2026.

Febrie Adriansyah lahir di Jakarta, 19 Februari 1968, dan besar di Jambi. Ia menempuh pendidikan dasar hingga kuliah di Jambi (Sarjana Hukum Universitas Jambi), lalu meraih Magister dan Doktor Ilmu Hukum di Universitas Airlangga dengan disertasi "Reformulasi Bukti Permulaan yang Cukup dalam Penyitaan Aset Tindak Pidana Pencucian Uang". Kariernya sebagai jaksa dimulai 1996 di Kejaksaan Negeri Sungai Penuh (jabatan terakhir di sana: Kasi Intelijen), lalu berpindah tugas sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Bandung, Aspidsus Kejati Jawa Timur, Wakajati DIY, Wakajati DKI Jakarta, Kajati Nusa Tenggara Timur, dan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung. Pada 29 Juli 2021 ia dilantik sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, hanya sekitar lima bulan sebelum diangkat menjadi Jampidsus (10 Januari 2022; sebagian pemberitaan menyebut 22 Januari 2022). Sebagai Jampidsus, ia memimpin penanganan sejumlah perkara besar: Jiwasraya, Asabri, Garuda Indonesia, BTS Kominfo, tata niaga timah (yang diungkap mencapai Rp300 triliun), hingga kredit macet Bank BTN. LHKPN per 31 Desember 2024 mencatat hartanya Rp18.261.445.180. Karier 33 tahun itu berakhir dramatis: pada 11 Juli 2026 ia mengundurkan diri sebagai Jampidsus beberapa jam setelah Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri menetapkannya sebagai tersangka dugaan korupsi dan TPPU; pada 4 Agustus 2026 Jaksa Agung ST Burhanuddin memberhentikannya sementara sebagai jaksa. Ia membantah semua tuduhan dan menyebut kasusnya sebagai kriminalisasi.

Nomor Putusan

Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.

Pidana Penjara

Belum ada putusan. Terdakwa dalam persidangan (tahap pembuktian sejak 26 Oktober 2026); ditahan di Rutan KPK. Dituntut pidana penjara oleh JPU belum dibacakan per 29 Oktober 2026.

Status

Dalam proses persidangan

Pasal yang Dilanggar:

Pasal 12 huruf e UU No. 31/1999 jo UU No. 20/2001 (Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) — dugaan pemerasan, ditetapkan Kejagung sebagai tindak pidana asal (keterangan Ketua Tim 9 Rudi Margono, 15 September 2026)UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU — Pasal 4 dan/atau Pasal 5 juncto Pasal 10, atau Pasal 607 ayat (1) huruf b dan c KUHP (sebagaimana dikutip BBC News Indonesia saat penetapan tersangka)

Keterangan:

Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) yang menangani perkara besar seperti Jiwasraya, Asabri, korupsi timah, dan BTS Kominfo. Perkaranya bermula dari penanganan perkara yang ia tangani: Kortastipidkor Polri menetapkannya tersangka pada 11 Juli 2026 atas dugaan korupsi dan/atau tindak pidana pencucian uang (TPPU), hari yang sama ia mundur dari jabatan Jampidsus. Perkara kemudian dilanjutkan Kejaksaan Agung melalui Tim 9; berkas dinyatakan lengkap (P-21) dan dilimpahkan ke Kejari Jakarta Selatan 18 September 2026. Sidang perdana digelar 7 Oktober 2026 di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan 34 jaksa gabungan. JPU mendakwanya melakukan pemerasan terhadap pengusaha Tan Kian senilai Rp55 miliar dan TPPU senilai ratusan miliar rupiah (angka yang dikutip media berkisar Rp346,7 miliar hingga Rp353,9 miliar), dengan barang bukti antara lain emas 74 kilogram. Dakwaan juga memuat sejumlah aliran dana dari perusahaan-perusahaan yang terkait perkara yang pernah ia tangani. Ia membacakan eksepsi pada 14–15 Oktober 2026 dan meminta dakwaan dibatalkan, namun pada 26 Oktober 2026 majelis hakim menolak keberatan tersebut (putusan sela) dan memerintahkan sidang berlanjut ke tahap pembuktian; sidang pembuktian berjalan sejak 27 Oktober 2026. Komisi Yudisial menyatakan ikut memantau persidangan, sementara kubu Febrie mempersoalkan perlindungan LPSK terhadap Ferry Yanto Hongkiriwang. Ia membantah semua dakwaan, menuduh Ferry Hongkiriwang mencatut namanya, dan menyebut perkaranya sebagai serangan balik atas penanganan korupsi besar. Seluruh keterangan masih berjalan di persidangan dan belum ada putusan; status hukumnya belum final.

Negara Republik Indonesia

Rp346,7–353,9 miliar (menurut dakwaan)

Nilai TPPU yang didakwakan; angka berbeda antar pemberitaan mengikuti versi dakwaan yang dikutip.

Tan Kian (pengusaha)

Rp55.000.000.000

Didakwa diperas melalui perantara Ferry Yanto Hongkiriwang.

8 Juli 2026

Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya menggeledah sejumlah lokasi di Jakarta dan sekitarnya terkait dugaan korupsi di tiga BUMN/perkara besar; kafe de'Clan Signature di Cipete digeledah dan disita Rp67,2 miliar dari dua lokasi; rumah Febrie di Sentul, Bogor, digeledah dan ditemukan emas 74 kg serta uang tunai ratusan miliar. Rumah Febrie di Kebayoran Baru dan Sentul dijaga personel TNI — YLBHI mengecam pengerahan kekuatan militer dan mendesak penjelasan.

9 Juli 2026

Isu keterkaitan Febrie dengan penggeledahan memuncak; Kejagung menyatakan menghormati proses hukum Polri; KPK (Deputi Pencegahan Aminuddin, 10 Juli) menduga Febrie memakai nominee untuk menyamarkan kepemilikan rumah mewah di Sentul yang tidak masuk LHKPN.

10 Juli 2026

Febrie menggelar konferensi pers di Gedung Bundar Kejagung: membantah keterkaitan dengan kafe de'Clan, menegaskan penanganan perkara Pidsus tetap berjalan sesuai SOP, dll. Pada hari yang sama Polda Metro Jaya menerbitkan Surat Penetapan Tersangka No. S.Tap/02/VII/RES.3.3/2026 tertanggal 10 Juli 2026 atas namanya.

11 Juli 2026

Kortastipidkor Polri (Kakortastipidkor Irjen Pol Totok Suharyanto) menetapkan Febrie sebagai tersangka dugaan korupsi dan/atau TPPU pada perkara PT Asabri, Krakatau Steel, dan pasokan batu bara PLTU PLN, bersama advokat Don Ritto (tersangka TPPU/Asabri). Pada hari yang sama Febrie mengundurkan diri sebagai Jampidsus dan pengunduran diri itu diterima Jaksa Agung ST Burhanuddin; Polri secara resmi menyerahkan tiga perkara beserta tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Agung; Komisi III DPR membentuk panja pengawasan.

13 Juli 2026

Polemik 'tak sesuai KUHAP': Mahfud MD menilai yang terjadi bukan pelimpahan perkara melainkan 'penyerahan/pengalihan kelanjutan penyidikan' yang tidak dikenal dan tidak dibenarkan KUHAP — sebab Febrie belum pernah diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik Polri; ia mencurigai tiga skenario (perkara dilokalisir, diperlambat, hingga di-deponering) dan mendesak KPK mengambil alih. Kejagung menyebut langkah itu 'pengalihan penanganan', bukan pelimpahan berkas. YLBHI menilai pelimpahan tak berdasar hukum dan mendesak KPK mengambil alih; KPK menyatakan masih memantau (syarat Pasal 10A UU KPK belum terpenuhi). Pada hari yang sama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan sowan/silaturahmi ke Mabes TNI (Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto) lalu ke Kejaksaan Agung (Jaksa Agung ST Burhanuddin) — keduanya berjabat tangan 'salam komando'; Kapolri menegaskan 'tidak ada masalah' antara Polri dan Kejagung serta membantah isu keretakan/rivalitas.

14 Juli 2026

Penyidik Polri mendatangi Gedung Pidsus Kejagung membawa koper bertuliskan 'BAP' untuk penyerahan dokumen tahap lanjutan; publik dan pegiat antikorupsi menyoroti sowan Kapolri sebagai upaya 'mendinginkan' isu ketegangan; Komisi Kejaksaan menyebut Febrie terancam dipecat tidak hormat.

15 Juli 2026

Kejagung menerbitkan tiga surat perintah penyidikan (sprindik) baru untuk perkara Krakatau Steel, batu bara PLTU PLN, dan PT Asabri; Kapuspenkum Anang Supriatna sempat menyebut Febrie 'saksi' (status hukum berubah tersangka→saksi) lalu malam harinya meralat: berdasarkan penetapan tersangka Polri, Febrie tetap tersangka. KPK menyatakan belum mengambil alih dan masih memantau progres.

17 Juli 2026

Kejagung memeriksa Febrie ±11 jam sebagai tersangka kasus ASABRI (18 pertanyaan, didampingi Hotman Paris) dan TIDAK menahannya; pada hari yang sama Polri menyerahkan tersangka Don Ritto beserta barang bukti (74 kg emas dan uang ratusan miliar) ke Kejagung — Don Ritto tetap ditahan (kuasa hukumnya menyebut kliennya 'tumbal karena dianggap orang dekat Jampidsus'). LP3HI/lembaga lain menggugat praperadilan atas pengalihan perkara ke Kejagung.

23 Juli 2026

Hotman Paris Hutapea mundur sebagai kuasa hukum Febrie di tengah sorotan (alasan kondisi kesehatan); posisinya digantikan tim advokat yang diketuai Febri Diansyah (eks juru bicara KPK).

24 Juli 2026

Febrie diperiksa ±10 jam di Kejagung sebagai saksi untuk TPPU, lalu statusnya dinaikkan menjadi tersangka TPPU dan ia ditahan 20 hari; penahanan dititipkan di Rutan Cabang KPK sebagai 'perlindungan' (Plt Jampidsus Rudi Margono, koordinator Tim 9). Usai pemeriksaan Febrie menyebut 'saya merasa memang ini kriminalisasi', meragukan kecukupan alat bukti, dan meminta maaf kepada Presiden Prabowo serta Jaksa Agung; ia menyerahkan soal kepemilikan 74 kg emas kepada penyidik.

25 Juli 2026

KPK (Deputi Koordinasi dan Supervisi Ely Kusumastuti) menyatakan penitipan tahanan Febrie di Rutan KPK sudah sesuai prosedur dan menegaskan perannya terbatas pada fasilitas penahanan; Kejagung beralasan faktor keamanan dan kenyamanan.

4 Agustus 2026

Jaksa Agung ST Burhanuddin memberhentikan sementara Febrie Adriansyah sebagai jaksa aktif atas usulan Tim 9/Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Rudi Margono, menyusul status tersangka TPPU; Jamwas menyebut Febrie masih menerima gaji meski mundur, memicu polemik publik (termasuk sorotan Komisi Kejaksaan soal potensi PTDH).

5 Agustus 2026

Febrie resmi mengajukan dua gugatan praperadilan ke PN Jakarta Selatan untuk menguji sah tidaknya penetapan tersangka, penahanan, dan upaya paksa (penggeledahan/penyitaan); tim kuasa hukum mengklaim menemukan pelanggaran hukum acara dan menilai Kejagung keliru menerapkan pasal TPPU hingga KUHP.

18 Agustus 2026

Sidang perdana praperadilan digelar di PN Jaksel; Febrie meminta agar emas 74 kg dan uang ratusan miliar segera dikembalikan; Kortastipidkor Polri meminta hakim menolak permohonan. Di luar gedung, massa berdemonstrasi menuntut praperadilan ditolak.

27 Agustus 2026

Hakim tunggal Richard Edwin Basoeki menolak praperadilan perkara No. 134/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (pemohon: Febrie; termohon: Polda Metro Jaya dan Kortastipikor Polri; turut termohon: Kejagung). Dalam pertimbangan putusan terungkap keterangan pengusaha Tan Kian soal penyerahan uang dolar Singapura ekuivalen ±Rp40 miliar kepada seseorang bernama 'Feri' terkait perkara Jiwasraya/Asabri; hakim menegaskan praperadilan tidak menilai kebenaran pokok perkara.

28 Agustus 2026

Praperadilan kedua (No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL) soal sahnya penetapan tersangka juga ditolak — status tersangka dan penyitaan dinyatakan sah; kuasa hukum menyatakan Febrie ikhlas dan membantah tafsir bahwa hakim menyimpulkan kliennya menerima Rp40 miliar dari Tan Kian (BAP Tan Kian disebut menyebut 'bisa saja' empat nama di Kejagung, tanpa menyebut Febrie).

8 September 2026

Febrie diperiksa Tim 9 Kejagung sebagai tersangka; kuasa hukum (Febri Diansyah) menyoroti dasar pemanggilan yang merujuk pada penetapan tersangka Polda Metro Jaya dan dua putusan praperadilan — praktik surat yang disebut belum pernah ada sebelumnya.

11 September 2026

Pengusaha Ferry Hongkiriwang (dikenal sebagai Ferry Boboho) mengembalikan Rp5 miliar ke Kejagung, diduga terkait dugaan pemerasan Febrie dan bagian dari aliran Rp40 miliar Tan Kian (Jiwasraya); pengamat menilai ia seharusnya juga dijadikan tersangka.

15 September 2026

Rapat koordinasi Tim 9 Kejagung dengan Kortas Tipikor Polri, KPK, Polda Metro Jaya, dan Komisi Kejaksaan; Kejagung mengumumkan tindak pidana asal TPPU Febrie adalah dugaan pemerasan Pasal 12 huruf e UU Tipikor dalam penanganan perkara PT Asuransi Jiwasraya dan/atau PT ASABRI, sedangkan Don Ritto dan Nurman Herin hanya dijerat TPPU. Jaksa menyita 38 objek aset tanah dan/atau bangunan senilai taksiran Rp846 miliar, 27 lembar saham perusahaan, barang bukti valas dan emas, serta 1.150 lembar dokumen; penyidikan dinyatakan rampung.

16 September 2026

Penuntut Umum Kejari Jakarta Selatan menyatakan berkas perkara lengkap (P-21) atas nama tersangka FA (Febrie Adriansyah) dan kawan-kawan.

18 September 2026

Pelimpahan tahap II: Tim 9 Kejagung menyerahkan tersangka Febrie Adriansyah beserta Don Ritto dan Nurman Herin serta barang bukti dan berkas ke JPU Kejari Jakarta Selatan; JPU diberi 20 hari menyusun surat dakwaan sebelum perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor. Febrie kepada wartawan membantah dugaan pemerasan ('selama 33 tahun jadi jaksa saya tidak pernah dijatuhi hukuman di pengawasan'), mempertanyakan kepemilikan emas 74 kg ('tanya penyidik', ia mengaku tak punya IUP tambang/konsesi sawit), dan kuasa hukumnya menegaskan 38 aset Rp846 miliar bukan milik Febrie; kuasa hukum juga menyoroti tempus TPPU dan pemerasan yang dinilai tidak sinkron.

19 September 2026

Aktivis 98 (JARI 98) dan sejumlah pegiat mendesak pengusutan kasus Febrie Adriansyah hingga tuntas dan publik mengawal perkaranya; pakar menilai 'data abadi' Gedung Bundar yang disinggung Febrie bisa membuka kembali kasus lama.

4 Oktober 2026

Kejagung menyita 38 bidang tanah senilai Rp846 miliar terkait dugaan TPPU Febrie Adriansyah.

7 Oktober 2026

Sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan 34 jaksa gabungan; JPU membacakan dakwaan: pemerasan Rp55 miliar terhadap pengusaha Tan Kian dan TPPU ratusan miliar rupiah.

8–12 Oktober 2026

Dakwaan mengungkap sejumlah aliran dana dari perusahaan yang terkait perkara yang pernah ditangani, antara lain PT Waskita Beton Precast, PT Jasa Marga, BFC Krakatau Steel, Sinarmas, dan Indonesia Exim. Kubu Febrie mempersoalkan asal-usul emas 74 kilogram.

14–15 Oktober 2026

Febrie Adriansyah membacakan eksepsi/nota keberatan dan meminta dakwaan dibatalkan; ia menyebut perkaranya sebagai serangan balik atas penanganan korupsi besar dan menuduh Ferry Hongkiriwang mencatut namanya.

19 Oktober 2026

Beredar kabar hoaks yang menyatakan Febrie Adriansyah telah dibebaskan; sejumlah media memverifikasi bahwa ia masih terdakwa.

21 Oktober 2026

JPU meminta majelis hakim menolak eksepsi Febrie dan menegaskan dakwaan sudah menjelaskan perannya.

26 Oktober 2026

Majelis hakim membacakan putusan sela: keberatan/eksepsi terdakwa DITOLAK dan sidang diperintahkan lanjut ke tahap pembuktian.

27 Oktober 2026

Sidang masuk tahap pembuktian; pakar hukum menekankan beban pembuktian ada pada jaksa. Perkara turut menjadi sorotan Komisi Yudisial.

29 Oktober 2026

Sidang pembuktian berlanjut; kubu Febrie mengajukan keberatan atas perlindungan LPSK terhadap Ferry Yanto Hongkiriwang.

👨‍👩‍👧 Keluarga Terlibat

Rugun Saragih

Istri

Jaksa fungsional di Kejaksaan Agung RI, menjabat Kepala Bidang Penerangan dan Penyuluhan Hukum (Penkum/Luhkum). Laporan LHKPN-nya Rp18.223.945.180 (mayoritas tanah dan bangunan Rp14,85 miliar) hampir identik dengan laporan Febrie Rp18.261.445.180. Namanya ikut tersorot setelah penggeledahan rumah keluarga di Sentul, Bogor (emas 74 kg dan uang ratusan miliar) dan sempat menjadi perbincangan publik.

🤝 Kroni & Rekan

Don Ritto

Terdakwa bersama dalam perkara yang sama

Kasus: Didakwa bersama Febrie Adriansyah dalam perkara pemerasan dan TPPU; menjalani persidangan yang sama.

Ferry Yanto Hongkiriwang (Ferry Boboho)

Disebut sebagai perantara/kurir uang Rp55 miliar

Kasus: Disebut dalam dakwaan sebagai pihak yang meminta Rp55 miliar kepada Tan Kian. Belum berstatus tersangka; kubu Febrie mempersoalkan perlindungan LPSK terhadapnya. Catatan: bukan tersangka dalam perkara ini.

Nurman Herin

Pihak yang mengaku dibohongi dan mengajukan nota perlawanan

Kasus: Muncul dalam persidangan; kuasa hukumnya meminta majelis memutus adil. Bukan terdakwa dalam perkara ini.

💎

38 bidang tanah senilai Rp846 miliar — disita Kejagung terkait TPPU (Oktober 2026)

💎

Emas 74 kilogram — disebut dalam dakwaan sebagai barang yang diperoleh dari perbuatan pidana; asal-usulnya dipersoalkan kubu terdakwa

💎

Uang tunai dan rekening terkait aliran dana yang didakwakan (nilai rinci belum dipublikasikan)

⚖️

Putusan Pengadilan

Belum ada putusan akhir. Praperadilan No. 134/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Sel dan No. 135/Pid.Pra/2026/PN.JKT.SEL (ditolak Agustus 2026); putusan sela 26 Oktober 2026 menolak keberatan/eksepsi terdakwa sehingga sidang lanjut ke tahap pembuktian.

Sumber rujukan profil

1.Febrie Adriansyah — Wikipedia bahasa IndonesiaWikipedia2.Data LHKPN, Kekayaan Jampidsus Febrie Kalah dari Istrinya yang Jaksa FungsionalTheiconomics · 2026-06-243.Pernyataan Lengkap Kejagung soal Febrie Adriansyah Mundur dari JampidsusdetikNews · 2026-07-114.Terkuak! Segini Beda Harta Febrie Adriansyah dan PLT Jampidsus Rudi Margono' (LHKPN Rp18.261.445.180)kompas.tv · 2026-07-115.Kapolri Bantah Isu Keretakan Polri-Kejagung usai Kasus Febrieperiskop.id · 2026-07-136.Mahfud MD Ungkap Kejanggalan Pengalihan Penyidikan Kasus Febrie ke Kejagung: Tak Sesuai KUHAPKompas.com · 2026-07-137.AmCham Indonesia Update Vol. 7 #073 — 'Top Anti-Corruption Prosecutor now a Corruption Suspect' (74 kg emas, uang, est. Rp476 miliar, Don Ritto partner/rekan Febrie)amcham.or.id · 2026-07-138.Sowan Kapolri ke Panglima TNI dan Jaksa Agung Usai Gonjang-ganjing Kasus Febrie AdriansyahKompas.com · 2026-07-149.Profil dan Harta Kekayaan Jaksa Rugun Saragih, Istri Febrie Adriansyah yang Tembus Rp18,2 MiliarTribunnews · 2026-07-1410.Perbandingan Harta Kekayaan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah dan Istrinya Rugun SaragihVIVA.co.id · 2026-07-1411.Kejagung kembali sebut status eks Jampidsus Febrie Adriansyah sebagai tersangka – Bagaimana kronologinya?BBC News Indonesia · 2026-07-1512.Diperiksa Kejagung, Febrie Adriansyah Tersangka Kasus ASABRI Tak DitahandetikNews · 2026-07-1713.Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Akhirnya Ditahan di Rutan KPKHukumonline · 2026-07-2414.Saya merasa ini kriminalisasi' – Eks Jampidsus ditahan di Rutan KPK, mengapa pegiat anti-korupsi ragu penanganan kasus oleh Kejagung?BBC News Indonesia · 2026-07-2515.Ditahan, Febrie Adriansyah Minta Maaf ke Presiden hingga Jaksa Agungmediaindonesia.com · 2026-07-2616.Febrie Adriansyah Resmi Ajukan Praperadilan, Klaim Temukan Dugaan PelanggaranKompas.com · 2026-08-0517.Kejagung Ungkap Tindak Pidana Asal di Kasus TPPU Febrie Adriansyah' (pemerasan Pasal 12 huruf e UU Tipikor)detikNews · 2026-09-1518.Jaksa Sita Tanah Senilai Rp 846 M di Kasus Febrie AdriansyahTempo.co · 2026-09-1519.Kejagung Sita 38 Objek Tanah Dalam Kasus TPPU Mantan Jampidsus Febrie Adriansyahimcnews.id · 2026-09-1620.Tak Hanya Febrie Adriansyah, Kejagung Juga Limpahkan Tersangka Nurman Herin dan Don Ritto ke Kejari Jaksel' (P-21 16 Sep, tahap II 18 Sep)VIVA.co.id · 2026-09-1821.Dilimpahkan ke Kejari Jaksel, Febrie Adriansyah: 33 Tahun Saya Tidak Pernah Dijatuhi Hukuman di PengawasanOkezone · 2026-09-1822.Tim Febrie Adriansyah Nyatakan Bukan Pemilik Aset Rp 846 M Sitaan Kejagung' (38 aset, 27 lembar saham, 1.150 dokumen)Kompas.com · 2026-09-1823.Febrie Adriansyahid.wikipedia.org · 2026-09-2024.Kejagung Sita 38 Bidang Tanah Senilai Rp846 Miliar dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyahfaktakalbar · 2026-10-0425.Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Jalani Sidang Perdana Kasus TPPU, Dikawal Ketat TNIRadar Bromo · 2026-10-0726.Pengacara Markus Hadi Tanoto Soroti Konstruksi Dakwaan JPU dalam Kasus Febrie AdriansyahJawaPos · 2026-10-0927.Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Keberatan LPSK Lindungi Ferry BobohoCNN Indonesia · 2026-10-2628.Hari Ini Hakim PN Tipikor Jakarta Bacakan Putusan Sela Kasus Pemerasan dan TPPU Febrie AdriansyahTribunnews · 2026-10-2629.Eksepsi Belum Ditolak, Kubu Febrie Singgung Gugatan Ijazah Gibran di MKMetroTVNews.com · 2026-10-2730.Eksepsi Febrie Ditolak, JPU Didesak Buktikan Aliran Uang TPPU dan Jaga Kredibilitas InstitusiSINDOnews Nasional · 2026-10-2931.Deret Transaksi Ratusan Miliar di Dakwaan Febrie, Emas 74 Kg hingga Gurita AsetMonitor Indonesia · 2026-10-3032.Dakwaan Febrie Ungkap Rp346 M, 74 Kg Emas, Saham Rp14 M hingga Gurita AsetMonitor Indonesia · 2026-10-3133.Jaksa Bakal Hadirkan Total 103 Saksi di Sidang Eks Jampidsus Febrie AdriansyahKumparan · 2026-11-0234.Jaksa Kerahkan 103 Saksi di Sidang Febrie Adriansyah, Tan Kian hingga Ferry Boboho DihadirkanViva · 2026-11-0235.Ferry Boboho Beberkan Permintaan Uang ke Tan Kian, Febrie Adriansyah Disebut Sempat Bilang Rp50 MViva · 2026-11-0236.Ferry Boboho Ungkap Diperintah Febrie untuk Serahkan Uang ke Pria Berambut PutihMedia Indonesia · 2026-11-02

⚠️ Data dihimpun dari pemberitaan kredibel, dokumen resmi, dan putusan pengadilan. Status hukum setiap orang berbeda dan belum tentu berkekuatan hukum tetap (inkracht). Berlaku asas praduga tak bersalah.